Tuesday, 5 November 2019

Perkembangan Feminisme dan Dampak terhadap Pendidikan


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kenyataan Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya, beragam etnis hidup di dalamnya, karakter dan mentalitas bangsanya yang tak seragam, tidak dapat dipungkiri. Keragaman ini dapat dikatakan sebagai anugerah kehidupan yang patut dijaga, dilestarikan, dikembangkan. Upaya yang bisa ditempuh tak lain adalah dengan menumbuhkan kesadaran yang mengakar dalam jiwa dan keyakinan. Kesadaran menempati posisi paling terdepan yang harus diprioritaskan. Tanpa kesadaran akan pentingnya keragaman,  kekayaan yang dimiliki bangsa ini bisa musnah.
Kesadaran multikultur dapat diwariskan dari generasi ke generasi, dan dengan begitu peranan dunia pendidikan menjadi lebih nyata. Dunia pendidikan mengemban amanah dan tanggungjawab besar agar generasi penerus kuat memegang kesadaran multikultural ini. Konsekuensinya, sejak dini, generasi muda sudah harus dididik dan diajar untuk menghayati pentingnya menjaga keragamaan budaya Nusantara. Kesadaran generasi muda dapat direproduksi terus-menerus melalui media pembelajaran di dunia pendidikan.
Studi-studi tentang gender saat ini melihat bahwa ketimpangan gender terjadi akibat rendahnya kualitas sumber daya kaum perempuan sendiri, dan hal tersebut mengakibatkan ketidakmampuan mereka bersaing dengan kaum laki-laki. Oleh karena itu, upaya-upaya yang dilakukan adalah mendidik kaum perempuan dan mengajak mereka berperan serta dalam pembangunan. Namun kenyataannya, proyek-proyek peningkatan peran serta perempuan agak salah arah dan justru mengakibatkan beban yang berganda-ganda bagi perempuan tanpa hasil yang memang menguatkan kedudukan perempuan sendiri.
Dalam realitas yang kita jumpai pada masyarakat tertentu terdapat adat kebiasaan yang tidak mendukung dan bahkan melarang keikutsertaan perempuan dalam pendidikan formal. Bahkan ada nilai yang mengemukakan bahwa “perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena akhirnya ke dapur juga.”Ada pula anggapan seorang gadis harus cepat-cepat menikah agar tidak menjadi perawan tua. Paradigma seperti inilah yang menjadikan para perempuan menjadi terpuruk dan dianggap rendah kaum laki-laki.
Siswa, baik laki-laki maupun perempuan, diberi kesempatan yang sama. Perbedaan gender dihapuskan dalam ruang pembelajaran. Seperti ungkapan aliran feminisme tradisional yang dikutip oleh Spelman (1988), berbunyi, “jika semua manusia adalah sama, maka semua manusia adalah setara. Tidak ada yang lebih superior atau lebih inferior dibanding yang lainnya.” Kesadaran akan kesetaraan gender semacam ini perlu turut ditanamkan sejak dini di dunia pendidikan dan sepanjang proses pembelajaran.
Satu masalah muncul, di kemudian hari, dengan adanya kenyataan di lapangan bahwa booming-nya diskursus kesetaraan gender di tingkat global maupun nasional, tidak berbanding lurus dengan kenyataan realitanya. Jumlah kuantitas laki-laki dan perempuan yang mengenyam pendidikan tidak sama. Bahkan, setelah berada di dunia pendidikan itu sendiri, peserta didik (siswa/siswi) terkendala dalam memanfaatkan kesempatan dan hak yang sama yang telah disediakan. Di ruang-ruang seminar, perkulihan, bahkan sampai ke tingkatan yang lebih rendah, yakni di ruang-ruang sekolah, kompetisi dan persaingan antara laki-laki dan perempuan tidak selalu setara. Dalam arti, kualitas dan kuantitas mereka berbeda. Hanya segelintir perempuan yang berani ‘bersuara’ di tengah kerumunan laki-laki. Atau juga, hanya segelintir perempuan yang tampak ‘lebih unggul’ dibanding perempuan kebanyakan.
Saat ini perbedaan gender bukan lagi jadi tiranti perempuan kompetensinya dipandang sebelah mata, kaum perempuan mulai muncul keeksistensiannya ditingkatan global. Ketika Margareth Thatcher menjadi perdana menteri Inggris tahun 1979, Gerakan ini mencapai puncaknya. Akhirnya seluruh dunia harus mengakui bahwa wanita pun dapat berdiri di puncak dan menjadi penguasa, termasuk penguasa atas laki-laki. Hal ini telah merubah posisi wanita dalam masyarakat. Saat itu, wanita masih di anggap sebagai warga negara kelas dua. jadi jelas kejadian di atas adalah sebuah perubahan tatanan sosial yang sangat drastis, dan tentu sangat positif. ini menunjukan bahwa seseorang di akui bukan lagi karena jenis kelaminnya, tapi karena kompentensinya.
makalah ini tidak untuk menganalisis ‘ketimpangan’ realitas di atas, melainkan untuk mencoba menjawab beberapa masalah yang terkait dengan perkembangan feminisme yang dirangkum dalam rumusan masalah.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat disimpulkan beberapa permasalah yang akan dijawab dalam makalah ini yaitu:
1.      Bagaimanakah pengertian feminism dari sudut pandang landasan filsafat?
2.      Bagaimanakah perkembangan feminisme dan apa dibalik pemaknaan feminisme dari masa ke masa?
3.      Bagaimanakah perkembangan faham feminism di Indonesia ?
4.      Bagaimanakah pendidikan memandang faham feminism sebagai bagian dari landasan filsafat ?



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian faham feminisme sebagai bagian dari filsafat
Feminisme adalah suatu bentuk gerakan kaum perempuan untuk memperolah persamaan derajat dengan dan kebebasan dari penindasan lelaki dan aturan-aturan yang mereka buat. Istilah feminisme sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Charles Fourier, seorang sosialis Perancis yang banyak mempengaruhi perkembangan gerakan feminisme di seluruh dunia. Dalam perkembangan selanjutnya, pendefinisian istilah feminismee menjadi sulit karena kaum feminis tidak ingin memberikan definisi yang pasti dan seragam dengan berbagai alasan. Maggie Humm (1989), menyatakan bahwa pendefinisian yang terlalu precise akan cenderung menyesatkan karena proses pemaknaan merupakan usaha untuk memperluas dan bukannya mempersempit alternatif linguistik (Thompson, 2001).
Menurut Thompson (2001), feminisme merupakan gerakan konstruksi sosial dan bukannya gerakan persamaan gender karena permasalahan yang diusung oleh feminisme mengacu pada penataan sosial dan bukan biologis. Makna feminisme seringkali disalahartikan seperti yang dikutip oleh Prabasmoro (2006) dikatakan bahwa feminisme seringkali disalahtafsirkan: pertama, sebagai gerakan dari barat, atau bahkan lebih dari itu diidentifikasikan sebagai Budaya Barat. Kedua, atau yang biasanya terus mengikuti kesalahtafsiran pertama adalah bahwa feminisme merupakan gerakan perempuan yang membenci laki-laki, pengikut seks bebas dan/atau lesbian.
Feminisme merupakan bagian dari cabang filsafat yang dikenal dengan filsafat feminisme. Filsafat feminisme, yaitu filsafat yang berhubungan dengan gerakan perempuan, adalah salah satu aliran yang banyak memberikan sumbangan dalam perkembangan studi kultural. Filsafat feminisme berakar dari pemahaman mengenai inferioritas perempuan. Konsep kunci feminisme adalah kesetaraan antara martabat perempuan dan laki-laki. Filsafat feminisme muncul seiring dengan bangkitnya kesadaran bahwa sebagai manusia, perempuan juga selayaknya memiliki hak-hak yang sama dengan laki-laki. John Stuart Mill dan Harriet Taylor dalam Tong (1998) menyatakan bahwa untuk memaksimalkan kegunaan yang total (kebahagiaan/kenikmatan) adalah dengan membiarkan setiap individu mengejar apa yang mereka inginkan, selama mereka tidak saling membatasi atau menghalangi di dalam proses pencapaian tersebut. Mill dan Taylor yakin bahwa jika masyarakat ingin mencapai keadilan gender, maka masyarakat harus memberi perempuan hak politik dan kesempatan, serta pendidikan yang sama dengan yang dinikmati oleh laki-laki.
Filsafat feminisme memperlihatkan dua perbedaan mendasar dalam melihat perempuan dan laki-laki. Ungkapan male-female yang memperlihatkan aspek perbedaan biologis sebagai hakikat alamiah, kodrati. Sedangkan ungkapan masculine-feminine merupakan aspek perbedaan psikologis dan cultural, Ratna (2004). Kaum feminis radikal kultural menyatakan bahwa perbedaan gender mengalir bukan semata-mata dari biologi, melainkan juga dari sosialisasi atau sejarah keseluruhan menjadi perempuan di dalam masyarakat yang patriarchal dalam Tong (1998). Simon de Beauvoir menyatakan bahwa dalam masyarakat patriarkal, perempuan ditempatkan sebagai yang Lain atau liyan, sebagai manusia kelas dua (deuxième sexe) yang lebih rendah menurut kodratnya (Selden, 1985: 137). Menurut Cavallaro (2004) Kedudukan sebagai manusia kelas dua atau liyan mempengaruhi segala bentuk eksistensi sosial dan kultural perempuan.
Filsafat feminisme menfokuskan diri pada pentingnya kesadaran mengenai persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dalam semua bidang. Filsafat ini berkembang sebagai reaksi dari fakta yang terjadi di masyarakat, yaitu adanya konflik kelas, konflik ras, dan, terutama, karena adanya konflik gender. Menurut Ratna (2004) Feminisme mencoba untuk mendekonstruksi sistem yang menimbulkan kelompok yang mendominasi dan didominasi, serta sistem hegemoni di mana kelompok subordinat terpaksa harus menerima nilai-nilai yang ditetapkan oleh kelompok yang berkuasa. Feminisme mencoba untuk menghilangkan pertentangan antara kelompok yang lemah dengan kelompok yang dianggap lebih kuat. Lebih jauh lagi, feminisme menolak ketidakadilan sebagai akibat masyarakat patriarki, menolak sejarah dan filsafat sebagai disiplin yang berpusat pada laki-laki.
B.     Perkembangan feminisme dari masa ke masa
Gerakan feminisme yang pertama kali muncul di Eropa dari abad ke-17 pada awalnya merupakan bentuk protes dari kaum perempuan terhadap gereja. Pada masa itu, gereja merupakan institusi tertinggi yang menguasai hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Pada dasarnya kekuasaan gereja yang terlalu besar dan aturan-aturannya yang bersifat mutlak memang dianggap sewenang-wenang dan menyusahkan masyarakat pada umumnya. Akan tetpai, kaum perempuan sebagai kelompok minoritas bahkan menerima perlakuan yang lebih tidak menyenangkan lagi karena mereka dianggap sebagai makhluk golongan kedua setelah lelaki. Salah satu tokoh feminis yang paling awal adalah seorang wanita bangsawan Perancis bernama Simone de Beauvoir yang menyuarakan aspirasinya melalui karya sastra.
Para peneliti dan penulis dalam kajian feminism memiliki versi masing-masing dalam hal pembagian gerakan feminism dalam gelombang-gelombang yang runut. Dalam makalah ini, setelah sedikit perkenalan mengenai kemunculan awal feminism di atas, penulis akan langsung membahas mengenai gerakan feminism modern yang dimulai pada tahun 1960 dan dipelopori oleh kaum perempuan intelektual di Amerika Serikat. Pada gerakan feminism modern tersebut kaum perempuan memperjuangkan hak-hak sipil perempuan dalam masyarakat, pendidikan dan juga politik. Tokoh-tokoh yang paling popular pada saat itu diantaranya Virginia Woolf dan Charlotte Perkins. Selanjutnya pada tahun 1970-an, masih di Amerika Serikat, muncul suatu gerakan feminism yang kemudian dikenal sebagai feminism radikal karena memiliki landasan teori dan tujuan sendiri yang tidak berdasarkan teori Marxis. Para aktifis feminism radikal memperjuangkan pengembangan epistemology yang berperspektif feminis, sehingga kajian women’s studies dapat diterima oleh kalangan akademisi lain (Husna, __ ).
Hingga saat ini, feminisme masih tetap berkembang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan zaman yang secara otomatis juga mempengaruhi pikiran dan harapan-harapan perempuan sebagai objek yang diperjuangkan oleh kaum feminis. Proses perkembangan yang melibatkan penyesuaian dengan perubahan zaman yang berarti penyesuaian dengan masalah dan fenomena yang ada inilah yang nantinya berkaitan dengan teori Habitus yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu.
C.     Perkembangan Feminisme di Indonesia
Telah menjadi pengetahuan umum bahwa gerakan feminism pertama di Indonesia adalah perjuangan R.A. Kartini agar kaum perempuan diberikan hak untuk menempuh pendidikan seperti halnya kaum lelaki. Sejarah feminis telah dimulai pada abad 18 oleh RA Kartini melalui hak yang sama atas pendidikan bagi anak-anak perempuan. Ini sejalan dengan Barat di masa pencerahan/The Enlightenment, oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis den Condorcet yang berjuang untuk pendidikan perempuan.
            Akan tetapi, kobaran semangat Kartini yang begitu kuat untuk menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki-laki tidak dapat dipungkiri merupakan sesuatu yang pada masa itu memang belum dimiliki perempuan lain manapun di negeri ini. Oleh karena itu, gelar pelopor gerakan feminism memang sepantasnya disandang Kartini, setidaknya ia mengawali pemikiran akan suatu kondisi sosial masyarakat dimana manusia tidak lagi dipandang berdasarkan gender dan diperlakukan dengan lebih buruk hanya karena mereka terlahir sebagai perempuan.
            Faktanya, pada perkembangan selanjutnya di akhir masa penjajahan Belanda di Indonesia, para tokoh pergerakan perempuan yang mencetuskan diadakannya kongres perempuan menjadikan Kartini dan pemikiran-pemikirannya sebagai landasan semangat juang mereka. Bahkan hingga saat ini, hari Kartini diperingati dengan semangat bahwa perempuan harus mampu mandiri dan bersaing dengan kaum laki-laki dalam setiap aspek kehidupan. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa terlepas dari segala kontroversi dan penolakan yang memojokkannya, Kartini secara de facto merupakan pencetus dan penggagas pertama semangat emansipasi perempuan di Indonesia.
            Jika dibandingkan dengan gerakan feminism di negara-negara lain seperti Amerika Serikat dan Inggris, gerakan feminism di Indonesia bisa dibilang berjalan dengan lambat dan tenang. Apabila di Negara-negara tersebut tercatat adanya peristiwa besar dimana perempuan melakukan demonstrasi menuntut persamaan hak dengan laki-laki, maka di Indonesia kita tidak pernah melihat hal-hal seperti demikian bahkan hingga saat ini. Salah satu penyebabnya adalah fakta bahwa di Indonesia yang budayanya sangat dipengaruhi oleh ajaran agama Islam, perempuan cenderung diperlakukan dengan lebih baik dibanding di Negara-negara lain dimana kaidah-kaidah sosial hanya diatur dan dikuasai oleh kaum laki-laki yang tentunya tidak mewakili aspirasi kaum perempuan sama sekali.
            Selain itu, perbedaan tingkat pendidikan merupakan sebab lain kenapa gerakan feminism di Indonesia tidak sedinamis di Negara lain. Seperti diketahui, gelombang perlawanan kaum feminis di Amerika Serikat terjadi pada tahun 1960-an hingga 1970-an, saat dimana perempuan mulai meneruskan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Di Indonesia, pendidikan hingga ke perguruan tinggi belum begitu terlaksana hingga baru-baru ini, sehingga dapat dipahami mengapa perjuangan mereka cenderung terlihat lebih lambat dan tak tampak dibanding gerakan feminis di Negara lain.
Dewasa ini, perubahan kecenderungan gerakan feminism yang paling terlihat adalah meningkatnya usaha-usaha yang dilakukan feminis secara individual. Jika dulu feminism diperjuangkan dengan membentuk kelompok-kelompok besar yang akan bergerak bersama dalam mencapai misi feminis tertentu, saat ini banyak tokoh feminis yang berjuang sendiri dalam bidang masing-masing. Contoh yang mungkin paling populer adalah aktifis perempuan yang memperjuangkan nilai-nilai feminism melalui buku-buku yang ditulisnya. Dengan cara ini, pesan yang ingin disampaikan pada masyarakat tentang konsep feminism akan sampai dengan baik tanpa membuat kehebohan atau konflik nyata dalam masyarakat.
Perjuangan feminist sering disebut dengan istilah gelombang dan menimbulkan kontroversi/perdebatan, mulai dari feminis gelombang pertama (first wave feminism) dari abad 18 sampai ke pra 1960, kemudian gelombang kedua setelah 1960, dan bahkan gelombang ketiga atau Post Feminism. Di Indonesia feminis mulai marak kira-kira 1980-an. Hal ini terlihat dari munculnya para aktifis gerakan perempuan seperti Herawati, Wardah Hafidz, Marwah Daud Ibrahim, Yulia Surya Kusuma, Ratna Megawangi dan lain-lain. Gerakan feminisme muncul karena adanya kesadaran bahwa dalam sejarah peradaban manusia, termasuk Indonesia, perempuan telah diperlakukan secara kuarang adil. Namun ironisnya, hal ini dilakukan secara sistematis dengan adanya dominasi budaya patriarki yang begitu kuat dalam sejarah manusia.
D.    Pandangan Pendidikan terhadap Gender (Sub dari Feminisme)
Dalam deklarasai Hak-hak asasi manusia pasal 26 dinyatakan bahwa:” Setiap orang berhak mendapatkan pengajaran… Pengajaran harus mempertinggi rasa saling mengerti, saling menerima serta rasa persahabatan antar semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan, serta harus memajukkan kegiatan PBB dalam memelihara perdamaian dunia … “.
Terkait dengan deklarasi di atas, sesungguhnya pendidikan bukan hanya dianggap dan dinyatakan sebagai sebuah unsur utama dalam upaya pencerdasan bangsa melainkan juga sebagai produk atau konstruksi sosial, maka dengan demikian pendidikan juga memiliki andil bagi terbentuknya relasi gender di masyarakat terkait dengan deklarasi di atas, sesungguhnya pendidikan bukan hanya dianggap dan dinyatakan sebagai sebuah unsur utama dalam upaya pencerdasan bangsa melainkan juga sebagai produk atau konstruksi sosial, maka dengan demikian pendidikan juga memiliki andil bagi terbentuknya relasi gender di masyarakat. Pendidikan memang harus menyentuh kebutuhan dan relavan dengan tuntutan zaman, yaitu kualitas yang memiliki keimanan dan hidup dalam ketakwaan yang kokoh, mengenali, menghayati, dan menerapkan akar budaya bangsa, berwawasan luas dan komprehensif, menguasai ilmu pengetahuan, dan keterampilan mutakhir, mampu mengantisipasi arah perkembangan, berpikir secara analitik, terbuka pada hal-hal baru, mandiri, selektif, mempunyai kepedulian sosial yang tinggi, dan bisa meningkatkan prestasi. Perempuan dalam pendidikannya juga diarahkan agar mendapatkan kualifikasi tersebut sesuai dengan taraf kemampuan dan minatnya. Dengan demikian, pendidikan seharusnya memberi mata pelajaran yang sesuai dengan bakat minat setiap individu perempuan, bukan hanya diarahkan pada pendidikan agama dan ekonomi rumah tangga, melainkan juga masalah kompetensi dan ketrampilan lain. Pendidikan dan bantuan terhadap perempuan dalam semua bidang tersebut akan menjadikan nilai yang amat besar dan merupakan langkah awal untuk memperjuangkan persamaan sesungguhnya.
Hak untuk memperoleh pendidikan tanpa memandang gender tidak hanya digaungkan dinegara kita saja, negara lain pun sama. Salah satu tokohnya adalah Malala Yousafzai, seorang remaja puteri yang memperjuangkan/menyuarakan hak anak perempuan di Lembah Swat di Pakistan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Perjuangannya tersebut hampir merenggut nyawanya, dengan menembakkan peluru ke kepala Malala. Banyak tokoh yang memperjuangkan hak yang sama yaitu mendapatkan pendidikan yang sama tanpa memandang gender. Hal tersebut perlu difahami bahwasanya feminisme multikultural perlu dikembangkan di negara kita juga.
Ide tentang femenisme multikultural ini memang cocok untuk dijadikan kacamata analisis dalam melihat upaya-upaya pembelaan dan pemberdayaan kaum perempuan di Indonesia, mengingat bangsa ini beragam dalam kebudayaan, tradisi, keyakinan, watak dan kepribadian. Menurut Arthur (1991) Perbedaan dan keragaman tersebut adalah fitrah alam, dan fitrah ini tidak boleh dihilangkan hanya atas nama persamaan. Sebaliknya, berbeda tetap bisa bersama dan setara. Kesadaran feminisme multikultural juga sangat tepat untuk diproyeksikan sebagai langkah awal menanamkan kesadaran kesetaraan gender melalui dunia pendidikan, dan  dalam proses pembelajaran. Kini, sudah saatnya memikirkan bagaimana kesadaraan ini mengejawantah atau manifes secara lebih konkrit dalam proses belajar-mengajar; yakni dalam praktek pendidikan.
Menurut Deborah king dalam Allison (1993) Kini, sudah saatnya menolak keyakinan feminisme tradisional, bahwa antara kaum laki-laki dan kaum perempuan adalah setara, antara satu perempuan dengan perempuan lainnya adalah setara. Sebab, kesetaraan yang dimaksud dalam feminisme tradisional meniscayakan adanya kategorisasi dan karakterisasi perempuan, sehingga perempuan di luar kategori dan karakteristik yang dibangun tersebut dianggap bukan perempuan. Dalam konteks karier dan pekerjaan, sekedar untuk mengambil sampel kecil, perempuan dianggap setara dengan laki-laki dalam memperoleh hak bekerja. Kemerdekaan seorang perempuan hanya dipahami dari kebebasannya untuk terlibat dalam dunia karier, bahkan politik. Konsepsi tunggal semacam ini akan mengeliminir perempuan dari kebudayaan lain, yang merasa lebih nyaman diperlakukan layaknya ‘ratu’, dimana nafkah sepenuhnya ditanggung pihak laki-laki, atau perempuan lain dari akar historis berbeda yang merasa lebih maksimal dalam menjalankan ‘visi dan misi’ keperempuanannya dengan sekedar berkutat di ranah domestik, tanpa harus terlibat dalam wilayah publik. Kebudayaan yang berbeda akan melahirkan kesadaran dan formulasi teoritis yang berbeda pula. Akan tetapi, mereka tetap sama dalam satu nama: perempuan.


BAB III
KESIMPULAN
Budaya bias laki-laki membentuk perempuan cenderung taqlid, karenanya upaya sistematis dan berkelanjutan tentang kesetaraan dan keadilan gender dalam pendidikan menjadi semakin mendesak, akses pendidikan perempuan dan laki-laki harus mendapatkan kesempatan yang sama. Anak perempuan, sebagaimana anak laki-laki harus mempunyai hak atau kesempatan untuk sekolah lebih tinggi. Hal tersebut melahirkan faham baru yang dikenal dengan feminism.
Gender di era global berkaitan dengan kesadaran, tanggung jawab laki-laki, pemberdayaan perempuan, hak-hak perempuan termasuk hak dalam pendidikan. Tantangan yang dihadapi adalah bagaimana menghubungkan semua konsep gender untuk tujuan kesehatan dan kesejahteraan bersama. Pendirian gender perlu diterjemahkan dalam aksi nyata berupa gerakan pembebasan yang bertanggung jawab. Mendorong laki-laki dan perempuan untuk merubah tradisi pencerahan, yaitu sikap yang didasarkan pada akal, alam, manusia, agar diperoleh persamaan, kebebasan dan kemajuan bersama, tanpa membedakan jenis kelamin.
 

DAFTAR PUSTAKA
Alison M. Jaggar and Paula S. Rothenberg. (1993). Feminist Frameworks, Cet. III. New York: McGraw-Hill.
Arthur M. Schlesinger Jr. , (1991). The Sisuniting of America. Knoxville : Whittle Books.
Cavallaro, Dani. (2004). Critical and Cultural Theory, terj. Laily Rahmawati. Yogyakarta : Niagara
Elizabeth V. Spelman. (1988). Inessential Woman: Problems of Exclusion in Feminisme Thought Boston: Beacon Press.
Husna, Fauziatul._____. Analisis Sejarah Perkembangan Feminisme di Indonesia dalam Kacamata Teori Habitus Pierre Bourdieu. Tidak diterbitkan
Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2006. Kajian Budaya Feminis tubuh, sastra dan pop. Yogyakarta : Jalasutra.
Ratna, Nyoman Kutha. (2004) Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tong, Rosemarie Putnam. (1998). Feminist Thought : Pengantar paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis, terj. Aquarini Priyatna Prabasmoro. Yogyakarta : Jalasutra.


Wednesday, 26 December 2018

Berkelah Sendiri di Kuala Lumpur


Indah berbalam si awan petang,
Berarak di celah pepohon ara;
Pemanis kalam selamat datang,
Awal bismillah pembuka bicara.

Pantun di atas merupakan pembuka yang manis untuk pemaparan kisah perjalanan solo traveling saya selama 3 hari di negeri yang berslogan "Bersekutu menambah mutu". Sebenarnya solo traveling yang saya lakukan akibat dari ketidak sengajaan, berawal dari miskomunikasi kesalahan memesan tiket yang berbeda waktunya dengan rekan-rekan kantor, yang memaksakan saya untuk solo traveling.

karena kali ini solo traveling, dan ini yang pertama kali, membuat saya untuk mempersiapkan kebutuhan, ittenarary serta perlengkapannya lebih matang lagi. Persiapan dimulai dari persiapan transport lokal menuju bandara, untuk transport lokal saya pergi menggunakan Argo parahyangan, tidak memilih travel karena resiko sampai ke bandara tidak tepat waktu (saat itu sedang ada pembangunan jalan tol di tol Cikampek) setelah sampai gambir perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus Damri dengan tujuan Terminal 3 Bandara soekarno hatta.

Internasional Boarding Lounge Terminal 3
 Maskapai yang saya gunakan dalam perjalanan solo traveling ini yaitu Malaysia Airlines dengan tujuan KLIA. Pesawat tiba di KLIA sekitar pukul 21.30 waktu setempat, belum terlalu malam di Kuala Lumppur, soalnya adzan Maghribnya saja pukul 7 petang lebih. Setiba di KLIA saya pun langsung menuju counter simcard yang sudah dipesan jauh-jauh hari lewat aplikasi travel "Klook", selepas itu saya ppun menuju stasiun bus. Menggunakan bus menuju tempat menginap merupakan pilihan yang tepat disamping murah, busnya pun bagus dan pelayanannya memuaskan. harga tiket bus ke arah Bukit Bintang seharga 11 ringgit, dan bus pun hanya sampai KLCC selepas itu kami menggunakan armada yang lebih kecil berupa minivan untuk diantarkan sampai depan hotel.

Hari pertama,... awalnya kaget saat terbangun dihari pertama di Kuala Lumpur, dikira saya terbangun kesiangan, karena jam menunjukan pukul 06.00, ketika membuka tirai jendela langit masih gelap... hmhmhm dan suara adzan pun tidak terdengar rupanya tempat menginap saya didominasi oleh turis yang berlibur (Bukit Bintang) mungkin jauh dari masjid. dihari pertama ini rencananya diawali dengan silaturahmi dengan keluarga teh Nana (keluarga dari Cirebon), beliau meengajak untuk sarapan bareng. saya memilih nasi lemak untuk mengawali kuliner di KL ini.
Kedai Nasi Lemak
Nasi Lemak dengan Lauk Sotong
 Yummy keliatannya menggiurkan, rasanya kebayang perpaduan gurihh, pedas dan aroma rempah khas melayu... ternyata diluar ekspetasi begitu satu sendok masuk ke dalam mulut rasanya yummyyy,, berbeda dengan anggapan awal rasanya gurih, lebih cenderung manis, bumbunya kerasa, dan ga terlalu pedas nilainya 8 dari 10.. patut di coba soalnya beda banget rasanya hiii..

selepas makan pagi teh nana menawarkan untuk mengantarkan saya ke tempat-tempat wisata, namun karena misi di awal solo traveling saya pun menolak dengan halus, sebab ingin mencoba moda transportasi di Kuala Lumpur. saya pun diantar oleh beliau sampai ke area dataran merdeka dengan bekal informasi moda transportasi di KL saya pun berpamitan untuk melanjutkan petualangan berikutnya.

Destinasi pertama yang dikunjungi adalah Istana Abdul Samad. berdasarkan Informasi bangunan ini dibangun di akhir abad 19 digunakan sebagai kantor pemerintahan kolonial Britania Raya, selepas kemerdekaan Malaysia tahun 1974 gedung ini digunakan sebagai pusat pemerintahan Sultan Selangor, bangunan ini bergaya klasik dan dirancang oleh Arthur Charles Alfred Norman.

Selfie di depan Istana Raja Abdul Samad
 Destinasi berikutnya masihh dikawasan yang sama, saya mengunjungi Muzium Tekstil. Dari rancangan bangunannya hampir sama dengan istana Abdul Samad, tempat ini gratis. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari museum ini, banyak kesamaan antara kain-kain di Indonesia dengan Malaysia mulai dari tenun, batik, sampai ke pakaian dari kulit kayu. Teknik pembuatannya pun sama, hal ini membuktikan bahwa Indonesia dan Malaysia merupakan satu rumpun.
Pakaian Tradisional Malaysia

Kain Berayat, yang merupakan kain khas melayu dan memiliki nilai sakral, kain ini diberasal dari Jambi

perjalanan pun dilanjutkan ke dataran merdeka dan dilanjutkan ke musium negara Malaysia. karena waktu yang terbatas dan bertepatan dengan shalat jumat selepas dari museum negara saya pun melanjutkan perjalanan ke masjid negara Kuala Lumpur untuk melaksanakan shalat jumat.

Shalat jumat di Kuala lumpur berakhir dipukul 13.30, saya pun melanjutkan perjalanan ke Batu Caves, saya menggunakan Moda transportasi KTM komuter Klang Line dari Muzium negara ke arah Batu Caves. Waktu tempuh tidak terlalu lama hanya sekitar kurang lebih 20 menit.

Cuaca saat itu di Batu Caves sangat cerah dan terik, begitu masuk gerbang batu caves disisi kanan terdapat tugu Hanuman yang menjulang tinggi, saya pun melanjutkan perjalanan menuju titik utama Batu caves dan icon khas Batu caves pun berdiri dengan megahnya (Patung Lord Murugan). Disamping Patung Lord Murugan terdapat 272 anak tangga yang di cat warna warni, saya pun dengan semangat menyusuri satu persatu anak tangga. Atmosfer diatas berbeda jauh dengan area bawah, bagian atas Batu caves terdapat gua dengan mulut gua yang lebar memberikan suasana lebih sejuk. Aroma dupa khas india tercium, ditambah alunan tabla dan tiupan pungi (alat musik tiup khhhas india) memberi kesan Hindustan yang sangat kental.
Berfoto di depan Patung Lord Murugan 



dengan 272 anak tangganya
  
suasana didalam gua
Setelah Puas berjalan-jalan di Batu Caves, saya pun kembali ke penginapan. selepas itu perjalanan hari pertama ditutup dengan makan malam dengan Menu Maggi Ayam dan teh Tarik di TGS Nasi Kandar.
Bentuknya biasa aja tapi rasanya.. mmm Yummy.

Saturday, 22 December 2018

Heaven in Phi phi

Koh phi phi
Kami beranjak dari Phuket menuju Phiphi islands sekitar pukul 6 pagi. Perjalanan menuju dermaga sekitar 45 menit melewati Old town dan berakhir di Fishing Port, Phuket. Setiba didermaga kami diberikan stiker sebagai pengganti tiket, ada berbagai macam stiker yang ditandai dengan warna yang berbeda. Stiker tersebut menandakan jenis fasilitas apa yang didapat selama di Phiphi islands.
Old town phuket, saat perjalanan menuju dermaga
stiker sebagai pengganti tiket fery
kami menggunakan moda transportasi cruise atau fery penyebrangan, fery yang kami gunakan adalah Sea Angel Cruise. Waktu tempuh menuju Phiphi sekitar 2 jam, lumayan lama dan sensasi menggunakan cruise cukup menegangkan. selama perjalanan saya kurang menikmati karena kondisi tidak mendukung, padahal fery yang kami gunakan fasilitasnya bagus dan nyaman, namun karena saya mabuk perjalanan menjadi kurang menikmati. Beberapa menit sebelum menepi ke dermaga tujuan kami disuguhkan dengan pemandangan yang mempesona, rasa mual karena sisaan muntah mendadak hilang, tanpa membuang waktu saya pun langsung mengabadikan momen tersebut.
salah satu spot fav dalam fery
mabuk perjalanan
menunggu cruise di dermaga
momen sebelum tiba di dermaga phiphi





















oh ya selama dalam perjalanan kami sempat berkenalan dengan salah satu turis yang berasal dari Iran namanya Mehdi. dengan kemampuan bahasa inggris yang terbatas kami pun berkomunikasi dengannya, sharing ittenarary dan banyak hal.

Tidak berlama-lama fery pun berlabuh di dermaga Phiphi.. kesan pertama saat menginjak pulau ini... langsung berdecak kagum.. dengan tampilan yang kontras antara birunya laut dan langit dengan putihnya pantai Phiphi dan hijaunya bukit dibalik pulau tersebut.. pokoke seperti yang ada didalam tayangan brosur paket wisata lah... hehehe..
Swaddi kab Phi phi

Turis asal Iran "Mehdi"


 setiap jejak di pulau ini sangat menarik, pasir putih, air laut yang jernih, dan bukit kapur yang menjulang tinggi sangat memanjakan mata saya. Kami menginap semalam di Maiyada resort phiphi.






Cuaca di sore hari rupanya kurang bersahabat, namun tidak menghalangi kami untuk menikmati sore hari di pantai sekitar phiphi.. dengan bermodalkan jas hujan dari plastik kami pun menyusuri pantai. rasanya sayang jika waktu tidak digunakan secara maksimal untuk menikmati surga di laut andaman ini hiiii..
menikmati rintikan air hujan di pantai koh phiphi

pulau phiphi ini sangat kecil, didalam pulaunya sendiri saya tidak menjumpai kendaraan bermotor, artinya atmosfer di pulau ini bebas polusi. Pulau ini pun dapat dijangkau dengan berjalan kaki serba dekat.. fasilitasnya lengkap mau jajan apapun ada.. ada 7eleven disana.
Senja di Phiphi
Cemilan dari phiphi

Sawaddi kab

Phuket International Airport, di point ini perjalanan menjelajahi negeri Gajah Putih dimulai. Diluar bandara Hiace Minivan sudah menunggu, kami pun bergegas memasuki kendaraan tersebut. Drivernya ramah, selama perjalanan, kami berbincang dan berdialog seru mengenai Thailand, dari sisi budaya, makanan khas, sampai ke masalah gender (penasaran abis dengan macam gender yang ada 18 jenis...). Mr. Yee driver yang sangat komunikatif, luwes, baik hati, dan jago mengemudi (tentunya) beliau merupakan warga negara muslim asli Thailand yang berasal dari provinsi Yala. Mr Yee sangat fasih berbahas melayu sehingga memudahkan kami dalam berkomunikasi.

Selama di Phuket, kami menyusuri beberapa tempat yang menarik disana, mulai dari kuil, pantai, serta beberapa tempat yang menarik.



1. Karon View Point
Family Potrait di Karon View Point







  Tempat ini merupakan salah satu tempat paling tinggi di Phuket. Di tempat ini kita bisa melihat laut lepas Andaman, Karon Beach, dan Kata Beach dari kejauhan. Di tempat tersebut disediakan beberapa teropong, cuma untuk memakai benda ini lumayan ngantri, soalnya jumlahnya terbatas.

2. Wat Chalong
Wat Chalong
Negara ini sangat terkenal dengan banyaknya kuil dan pagoda. salah satu kuil yang terkenal adalah Wat Chalong. Kuil Budha ini terletak di distrik Mueang Phuket, Kuil ini didedikasikan untuk 2 biksu Luang Pho Chaem dan Luang Pho Chuang, yang berperan penting dalam pemerintahan Raja Rama V. Saat memasuki area kuil ini, kami disambut oleh letupan bunyi petasan yang sangat meriah. Bangunan kuil hampir seluruhnya didominasi oleh warna emas dan merah.

3. Big Bee Honey Farm

Awalnya heran kenapa diajak Mr. Yee kesini... di Indonesia juga banyak. ternyata salah satu keistimewaan dari tempat ini adalah bisa icip-icip madunya.. he.. free koq kalo cuma nyoba doang, tapi tidak hanya madu saja yang dijual di tempat ini, ada beberapa oleh-oleh juga yang dijajakan di tempat ini.

4. Weekend Food Market

Surganya kuliner ya di tempat ini... mulai dari makanan berat ada.. buah-buahan segar ada.. sampai makanan unik yang ga nemuin di tempat lain banyak. Panganan unik yang saya coba adalah Miang Kham, semua rekan-rekan saya ga ada yang berani coba..komposisi kudapan ini terdiri dari kelapa bakar, kacang tanah bakar, potongan bawang merah, dan saus rahasia dibalut dalam daun sirih sensasi rasanya luar biasa.. anehhhhh.. manis,, aroma bawangnya kuat tapi segar dimulut.

Pengalaman berharga selama perjalanan hari pertama ini sangat banyak diantaranya warga negara Thailand sangat patuh pada pemimpinnya, salah satu bentuk kepatuhannya adalah ketika jam tertentu akan dikumandangkan lagu kebangsaan Thailand, beberapa saat orang-orang menghentikan aktivitas sejenak sampai alunan lagu tersebut berhenti. yang kedua di setiap rumah atau gedung pemerintahan dilengkapi kuil kecil yang didalamnya terdapat patung-patung dewa, salah satu tujuannya adalah untuk menghormati leluhurnya.